Rabu, 19 Desember 2018

Syahadat Muhammaddar Rasulullah (Makna, Rukun, Syarat, Konsekuensi)


A. MAKNA SYAHADAT ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH.

Makna syahadat anna Muhammadar Rasulullah adalah mengakui secara lahir batin bahwa beliau shalallahu 'alaihi wa salam adalah hamba Allah Ta'ala dan Rasul-Nya yang di utus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya,
mena'ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya dan tidak menyembah Allah Ta'ala kecuali dengan apa yang disyariatkan.

B. RUKUN SYAHADAT MUHAMMADAR RASULULLAH.

Syahadat ini juga mempunyai dua rukun, yaitu kalimat hamba dan utusan-Nya. Dua rukun ini menafikan ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (meremehkan) pada hak Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam.

Beliau adalah hamba dan rasul-Nya. Beliau adalah makhluk yang paling sempurna dalam dua sifat yang mulia ini. “Al-’abdu” di sini artinya hamba yang menyembah. Maksudnya, beliau adalah manusia yang diciptakan dari bahan yang sama dengan bahan ciptaan manusia lainnya. Juga berlaku atasnya apa yang berlaku atas orang lain.

Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, …’.” (Al-Kahfi: 110)

Beliau hanya memberikan hak ubudiyah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan karenanya Allah Subhannahu wa Ta’ala memujinya:

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya.” (Az-Zumar: 36)

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an) …” (Al-Kahfi: 1)

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram …” (Al-Isra’: 1)

Sedangkan rasul artinya, orang yang diutus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah kepada Allah sebagai basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi peringatan). Persaksian untuk Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dengan dua sifat ini meniadakan ifrath dan tafrith pada hak Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam .
Karena banyak orang yang mengaku umatnya lalu melebihkan haknya atau mengkultuskannya hingga mengangkatnya di atas martabat sebagai hamba hingga kepada martabat ibadah (penyembahan) untuknya selain dari Allah Subhannahu wa Ta’ala. Mereka ber-istighatsah (minta pertolongan) kepada beliau, dari selain Allah. Juga meminta kepada beliau apa yang tidak sanggup melakukannya selain Allah, seperti memenuhi hajat dan menghilangkan kesulitan.
Tetapi di pihak lain sebagian orang mengingkari kerasulannya atau mengurangi haknya, sehingga ia bergantung kepada pendapat-pendapat yang menyalahi ajarannya, serta memaksakan diri dalam mena’wilkan hadits-hadits dan hukum-hukumnya.

C. SYARAT SYAHADAT MUHAMMADAR RASULULLAH

1. Mengakui kerasulannya dan meyakininya di dalam hati.
2. Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan.
3. Mengikutinya dengan mengamalkan ajaran kebenaran yang telah dibawanya serta meninggalkan kebatilan yang telah dicegahnya.
4. Membenarkan segala apa yang dikabarkan dari hal-hal yang gaib, baik yang sudah lewat atau yang akan datang.
5. Mencintainya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, harta, anak, orang tua serta seluruh umat manusia.
6. Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat dan ucapan orang lain serta mengamalkan sunnahnya.

D. KONSEKUENSI SYAHADAT MUHAMMADAR RASULULLAH

Yaitu mena'atinya, membenarkannya, meninggalkan apa yang dilarangnya, mencukupkan diri dengan mengamalkan sunnahnya, dan meninggalkan yang lain dari perkara-perkara bid'ah dan hal-hal baru (dalam urusan agama), serta mendahulukan sabdanya diatas semua pendapat manusia.

[ Kitab Tauhid jilid 1 karya Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ]

6 Sisi Pandang Mengetahui Bid'ah

ENAM SISI PANDANG MENGETAHUI AMALAN BID'AH.
.
↪️Untuk mengenal bid'ah, para ulama membagi bid'ah menjadi dua:
.
➡️Pertama: Bid’ah ashilyyah atau haqiqiyyah, yaitu bid’ah yang tidak berdasar dalil sama sekali, tidak dari Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ dan istidlal yang diakui (mu’tabar) oleh ahli ilmu, tidak secara global maupun terperinci, oleh karenanya dinamakan bid’ah, karena merupakan sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya [Lihat Al-I’tishom, Al-Imam Asy-Syatibi rahimahullah, 1/367].
.
Contoh bid’ah ashliyyah atau haqiqiyyah adalah lafaz-lafaz dzikir dan shalawat yang sama sekali tidak berdasarkan dalil, seperti shalawat naariyyah, shalawat badar, dan lain-lain.
.
➡️Kedua: Bid’ah idhafiyyah (yang disandarkan), adalah sesuatu yang memiliki dua sisi, di satu sisi sesuai sunnah karena berdasarkan dalil, di sisi yang lain merupakan bid’ah karena tidak berdasarkan dalil [Lihat Al-I’tishom, Al-Imam Asy-Syatibi rahimahullah, 1/367, 445].
.
Contohnya: Lafaz-lafaz dzikir atau shalawat yang berdasarkan dalil, namun dalam pelaksanaannya terdapat kebid’ahan.
.
Seperti ucapan tahlil: Laa Ilaaha Illallah, tidak diragukan lagi ini adalah lafaz dzikir yang disyari’atkan, namun jika seseorang menentukan jumlah tertentu yang tidak ditentukan oleh syari’ah, seperti 1000 kali dalam sehari maka penentuan jumlah ini adalah bid’ah karena tidak berdasarkan dalil.
.
➡️Selengkapnya untuk mengetahui bid’ah idhafiyyah dapat dilihat dari enam sisi:
1. SEBAB.
Contoh: Sholat tahajjud disunnahkan. Andai seseorang sholat tahajjud dengan sebab malam Isra’ Mi’raj maka sholatnya menjadi bid’ah, karena tidak ada dalil yang menunjukkan disunnahkan sholat karena bertepatan dengan malam tersebut.
2. JENIS.
Seperti jenis hewan yang disyari’atkan untuk kurban. Berkurban disyari’atkan dengan jenis hewan unta, sapi dan kambing. Andai seseorang berkurban dengan kuda atau ayam, maka kurbannya menjadi bid’ah.
3. BILANGAN (KETENTUAN JUMLAH).
Berdzikir disyari’atkan. Andai seseorang menentukan jumlah khusus seperti 1000 kali dalam sehari tanpa adanya dalil, maka dzikirnya menjadi bid’ah.
4. TATA CARA (KAIFIYAH).
Sholat 5 waktu telah ditentukan caranya. Andai seseorang menciptakan cara-cara tersendiri maka sholatnya menjadi bid’ah.
5. WAKTU.
Hari ‘ied (hari yang selalu dirayakan atau diperingati secara berulang-ulang)
telah ditentukan dalam syari’at yaitu Idul Adha dan Idul Fitri. Andai seseorang menambah-nambah hari di hari ‘ied yang lain di waktu yang lain, maka ia telah berbuat bid’ah. Demikian pula haji telah ditentukan waktunya, andai seseorang berhaji di luar bulan-bulan haji maka hajinya menjadi bid’ah.
6. TEMPAT.
Haji dan umroh diwajibkan. Andaikan seseorang melakukan haji dan umroh di selain baitullah atau tempat-tempat yang telah ditentukan, maka haji dan umrohnya menjadi bid’ah.
Jadi, tidak cukup lafaz dzikir dan shalawat yang sesuai dalil, keenam sisi ini pun harus sesuai dalil, jika tidak maka menjadi bid’ah.
[Lihat Al-Ibda’ fi Kamaal As-Syar’i wa Khatharil Ibdtida’, Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 21-23].
.
•┈┈┈◎❅❀❦๐ŸŒธ❦❀❅◎┈┈┈•
.
.
☆Pegang erat sunnah dan gigitlah dengan geraham - Berani syar'i tanpa selfie☆
.
๐Ÿ”Š Disebarkan oleh :
.
๐Ÿ“ธ instagram : @muslimah.salafy
๐Ÿ’ป facebook.com/muslimah.salafyy
๐Ÿ“ข Telegram : t.me/muslimahsalafyy
๐Ÿ“ฒ Group Line : muslimah.salafy
๐ŸŒ sumber : https://web.facebook.com/sofyanruray.info/videos/1136082073210774
๐Ÿ‘คpemateri : Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Senin, 17 Desember 2018

10 Alasan Menghafal Tetapi Tidak Hafal-Hafal

10 ALASAN MENGHAFAL TAK HAFAL-HAFAL
Oleh K.H. Deden M. Makhyaruddin, M.A. (Dewan Penasihat Indonesia Quran Foundation)

1. Satu huruf Al-Qur’an satu kebaikan, dan satu kebaikan 10 pahala. Bagi yang kesulitan melafalkan, satu hurufnya dua kebaikan. Berarti setiap hurufnya 20 pahala. Semakin sulit semakin banyak. Kalikan dengan jumlah pengulangan Anda.

2. Al-Qur’an, seluruhnya, adalah kebaikan. Menghafal tak hafal-hafal berarti Anda berlama-lama dalam kebaikan. Semakin lama semakin baik. Bukankah Anda menghafal untuk mencari kebaikan.

3. Ketika Anda menghafal Al-Qur’an, berarti Anda sudah punya niat yang kuat. Rasulullah saw menyebut 70 syuhada dalam tragedi sumur Ma’unah sebagai qari (hafizh), padahal hafalan mereka belum semua. Ini karena seandainya mereka masih hidup, mereka akan terus menghafal. Jadi, meski Anda menghafal tak hafal-hafal, Anda adalah hafizh selama tak berhenti menghafal. Bukankah hafizh yang sebenarnya di akhirat?

4. Menghafal Al-Qur’an ibarat masuk ke sebuah taman yang indah. Mestinya Anda betah, bukan ingin buru-buru keluar. Menghafal tak hafal-hafal adalah cara Allah memuaskan Anda menikmati taman itu. Tersenyumlah.

5. Ketika Anda menghafal Al-Quran, meski tak hafal-hafal, maka dapat dipastikan, paling tidak, selama menghafal, mata Anda, telinga Anda, dan lisan Anda tidak sedang melakukan maksiat. Semakin lama durasinya, semakin bersih.

6. Memegang mushaf adalah kemuliaan, dan melihatnya adalah kesejukan. Anda sudah mendapatkan hal itu saat menghafal kendati tak hafal-hafal.

7. Adakalanya kita banyak dosa. Baik yang terasa maupun tak terasa. Dan menghafal tak hafal-hafal adalah kifaratnya, di mana, barangkali, tidak ada kifarat lain kecuali itu.

8. Tak hafal-hafal adakalanya karena Allah sangat cinta kepada kita. Allah tak memberikan ayat-ayat-Nya sampai kita benar-benar layak dicintai-Nya. Jika kita tidak senang dengan keadaan seperti ini, maka kepada siapa sebenarnya selama ini kita mencintai. Ini yang disebut: Dikengenin ayat.

9. Menghafal tak hafal-hafal tentu melelahkan. Inilah lelah yang memuaskan, karena setiap lelahnya dicatat sebagai amal sholeh. Semakin lelah semakin sholeh.

10. Menghafal tak hafal-hafal, tandanya Anda di pintu hidayah. Berat tandanya jauh dari nafsu. Jauh dari nafsu tandanya dekat dengan ikhlas. Dan ikhlas lahirkan mujahadah/kesungguhan yang hebat.

‪#TahfizhSmart‬ ‪#QuranTime‬ ‪#IQF.

Intermezzo:

- “ustadz.. menghafal di tempat antum tu berapa lama untuk bisa hatam??”

+ “SEUMUR HIDUP” jawab ust. Deden dgn santai.

-Meski bingung, Ibu itu tanya lagi “targetnya ustadz???”

+“targetnya HUSNUL KHOTIMAH, MATI DALAM KEADAAN PUNYA HAFALAN” jawab ust. Deden.

-“Mm.. kalo pencapaiannya ustadz???” Ibu itu terus bertanya.

+“pencapaiannya adalah DEKAT DENGAN ALLAH” kata ust. Deden.

Menggelitik, tapi sarat makna. Prinsip beliau “CEPAT HAFAL itu datangnya dari ALLAH, INGIN CEPAT HAFAL (bisa jadi) datangnya dari hawa nafsu dan syaithan”…

Semoga Allah ta'ala memudahkan kita untuk menghafal Al-Quran... Aamiin...

#islam #islamic #muslim #muslimah #hafiz #hafizoh #belajar #study#istiqomah #selfreminder #share #copas

4 Tahapan Iman kepada Takdir

๐Ÿ’Ž๐Ÿ’ EMPAT TAHAPAN IMAN TERHADAP TAKDIR

๐Ÿ”– Para Ulama menjelaskan 4 Tahapan Keimanan terhadap Taqdir.

๐Ÿ“‹ Barangsiapa yang Mengimani Keempat Tahapan tersebut dengan Benar, maka telah Benarlah Keimanannya terhadap Taqdir. Empat Tahapan itu adalah :

1⃣. Ilmu Allah.

๐Ÿ”ท Allah Maha Mengetahui segala Sesuatu, termasuk Apa yang Akan Terjadi di Alam Semesta ini secara Detail. Allah Maha Mengetahui segala Sesuatu sebelum Terjadinya.

...ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุจِูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ุนَู„ِูŠู…ٌ

๐Ÿƒ…Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala Sesuatu (Q.S al-Anfaal:75).

๐Ÿ’  Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah menyatakan : Al-Qodariyyah (Para Pengingkar Taqdir) yang disebut oleh Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam sebagai Majusi-nya Umat ini adalah Orang-orang yang Menyatakan bahwa Allah Tidak Mengetahui Kemaksiatan sampai Terjadinya Kemaksiatan (Sebelum terjadi Kemaksiatan, Allah Belum Tahu)(Manaaqib asy-Syafi’i karya al-Baihaqy (1/413).

2⃣. Penulisan Ilmu Allah terhadap yang Akan Terjadi hingga Hari Kiamat pada Lauhul Mahfudzh. Hanya Allah saja yang tahu tentang isi Lauhul Mahfudzh.

ู…َุง ุฃَุตَุงุจَ ู…ِู†ْ ู…ُุตِูŠุจَุฉٍ ูِูŠ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ูˆَู„َุง ูِูŠ ุฃَู†ْูُุณِูƒُู…ْ ุฅِู„َّุง ูِูŠ ูƒِุชَุงุจٍ ู…ِู†ْ ู‚َุจْู„ِ ุฃَู†ْ ู†َุจْุฑَุฃَู‡َุง ุฅِู†َّ ุฐَู„ِูƒَ ุนَู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ูŠَุณِูŠุฑٌ

๐Ÿƒ Tidaklah ada suatu Musibah yang Menimpa di Bumi atau pada Diri kalian kecuali Telah (Tertulis) dalam Kitab (Lauhul Mahfudzh) Sebelum Kami MenciptakanNya (Q.S al-Hadiid:22).

ูƒَุชَุจَ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…َู‚َุงุฏِูŠุฑَ ุงู„ْุฎَู„َุงุฆِู‚ِ ู‚َุจْู„َ ุฃَู†ْ ูŠَุฎْู„ُู‚َ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถَ ุจِุฎَู…ْุณِูŠู†َ ุฃَู„ْูَ ุณَู†َุฉٍ

๐Ÿƒ Allah Menulis Taqdir-taqdir (Seluruh Makhluk) 50 ribu tahun sebelum Diciptakannya Langit dan Bumi (H.R Muslim no 4797).

✅ Hal yang Tertulis dalam Lauhul Mahfudzh Berisi secara Detail Segala Sesuatu yang Terjadi di Dunia hingga Hari Kiamat, Tidak Akan Pernah Berubah. Tidak Ada Penambahan atau Pengurangan Sedikitpun.

3⃣. Kehendak Allah.

๐Ÿ”ท Segala Sesuatu yang Terjadi pasti Atas Kehendak Allah. Tidak Ada Sesuatupun yang Terjadi di Luar Kehendak Allah, dan Tidak Ada Satupun Kehendak Allah yang Tidak Terlaksana.

ุฅِู†َّู…َุง ุฃَู…ْุฑُู‡ُ ุฅِุฐَุง ุฃَุฑَุงุฏَ ุดَูŠْุฆุงً ุฃَู†ْ ูŠَู‚ُูˆู„َ ู„َู‡ُ ูƒُู†ْ ูَูŠَูƒُูˆู†ُ

๐Ÿƒ Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia Menghendaki Sesuatu hanyalah Berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia (Q.S Yaasin:82).

๐ŸŒพ Kehendak di sini yang dimaksud adalah Irodah Kauniyyah. Sedangkan Iradah Syar’iyyah Bisa Terjadi Bisa Tidak Terjadi.

๐Ÿ’ Makhluk Memiliki juga Kehendak, namun Kehendaknya di Bawah Kehendak Allah. Dalilnya adalah :

ู„ِู…َู†ْ ุดَุงุกَ ู…ِู†ْูƒُู…ْ ุฃَู†ْ ูŠَุณْุชَู‚ِูŠู…َ (28) ูˆَู…َุง ุชَุดَุงุกُูˆู†َ ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْ ูŠَุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุฑَุจُّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ

๐Ÿƒ Bagi siapa di antara Kalian yang Berkehendak untuk Menempuh Jalan yang Lurus. Dan Tidaklah mereka Berkehendak kecuali Sesuai (di bawah) Kehendak Allah Tuhan Semesta Alam (Q.S atTakwiir:28).

4⃣. Penciptaan.

๐Ÿ”ท Segala sesuatu adalah Ciptaan Allah, termasuk Manusia dan Amalannya.

ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ุฎَู„َู‚َูƒُู…ْ ูˆَู…َุง ุชَุนْู…َู„ُูˆู†َ

๐Ÿƒ Dan Allah yang Menciptakan Kalian dan Apa yang Kalian Perbuat. (Q.S as-Shooffaat: 96).

๐ŸŽฏ Itulah 4 tahapan dalam Keimanan terhadap Takdir.

๐Ÿ’ฅ Jika Seseorang Mengingkari Dua Tahapan Pertama tentang Ilmu Allah dan Penulisan Takdir, maka ia adalah Qodariyyah yang sampai pada Taraf Kafir karena ia Tidak Beriman terhadap Ilmu Allah. Sebagaimana perkataan Al-Imam asy-Syafi’i tentang Qodariyyah.

๐Ÿ”ฅ Jika Seseorang Mengingkari Tahapan ke-3 atau ke-4 Maka ia adalah
Mu'tazilah yang Menyimpang. Para Ulama’ Tidak Mengkafirkannya karena ia Menyimpang akibat Kesalahan Takwil. Namun, Tetap saja Pemahaman tersebut adalah Batil.

๐ŸŒท Ahlussunnah Mengimani 4 Tahapan Takdir tersebut Secara Benar (Disarikan dari Penjelasan Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi dalam menjelaskan Syarhus Sunnah lil Muzani).

๐Ÿ“’ Dikutip dari Buku "Akidah Imam Al-Muzani (Murid Imam Asy-Syafii)"

_____
๐ŸŽ“ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.

➖✽เฎœ๐Ÿƒ๐ŸŒน๐Ÿƒ๐ŸŒน๐Ÿƒ๐ŸŒน๐Ÿƒเฎœ✽➖

6 Orang yang Terbebas dari Fitnah di Alam Kubur

HIMPITAN ALAM KUBUR

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

๐Ÿ”– Imam Al-Muzani Rahimahullah Menyatakan :

ุซُู…َّ ู‡ُู…ْ ุจَุนْุฏَ ุงู„ุถَุบْุทَุฉِ ูِูŠ ุงู„ْู‚ُุจْูˆُุฑِ ู…ُุณَุงุกَู„ُูˆْู†َ

๐Ÿƒ Kemudian, Setelah Himpitan di Kubur Mereka akan Ditanya.

☀️ PENJELASAN :

๐Ÿ–ผ Semua Orang yang Meninggal Dunia akan Ditanya di Alam Kuburnya Tentang : Siapa Tuhanmu, Apa Agamamu, Siapa Nabimu.

๐ŸŒท Hal ini Berlaku untuk Semua Orang yang Mati kemudian Dikubur atau Mati Dimakan Binatang Buas, Mati Tenggelam di Lautan, Seluruhnya akan Ditanya di Alam Kuburnya (Alam Barzakh).

๐ŸŒ  Sebagian Ulama Menjelaskan Adanya Orang-orang yang Diperkecualikan untuk Bebas dari Fitnah (Pertanyaan Ujian) di Alam Kubur, yaitu :

1⃣. Orang yang Mati Syahid dalam Pertempuran di Jalan Allah.

๐Ÿ”น Seorang Sahabat Bertanya kepada Rasulullah : Mengapa Kaum Mukminin yang Lain Ditanya di Alam kubur, namun Orang yang Mati Syahid Tidak ?

๐Ÿ’ Rasul Menjawab :

ูƒَูَู‰ ุจِุจَุงุฑِู‚َุฉِ ุงู„ุณُّูŠُูˆูِ ุนَู„َู‰ ุฑَุฃْุณِู‡ِ ูِุชْู†َุฉً

๐Ÿƒ Cukuplah Kilatan Pedang (Yang Berkelebat) di Atas Kepalanya (Sebelum Terbunuh) sebagai Ujian (Pengganti Ujian Pertanyaan di Alam Kubur).

๐Ÿ’ H.R AnNasaai, Dishahihkan Al-Albany.

2⃣. Meninggal pada Saat Ribath (Berjaga-jaga di Perbatasan Wilayah Kaum Muslimin dari Kemungkinan Serangan Musuh).

ูƒُู„ُّ ู…َูŠِّุชٍ ูŠُุฎْุชَู…ُ ุนَู„َู‰ ุนَู…َู„ِู‡ِ ุฅِู„َّุง ุงู„َّุฐِูŠ ู…َุงุชَ ู…ُุฑَุงุจِุทًุง ูِูŠ ุณَุจِูŠู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูَุฅِู†َّู‡ُ ูŠُู†ْู…َู‰ ู„َู‡ُ ุนَู…َู„ُู‡ُ ุฅِู„َู‰ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ูˆَูŠَุฃْู…َู†ُ ู…ِู†ْ ูِุชْู†َุฉِ ุงู„ْู‚َุจْุฑِ

๐Ÿƒ Setiap Orang yang Meninggal akan Ditutup Amalannya kecuali Orang yang Meninggal dalam Keadaan Ribath (Berjaga di Perbatasan Kaum Muslimin) di Jalan Allah, maka Amalannya akan Berkembang hingga Hari Kiamat dan Akan Diberi Keamanan dari Fitnah Kubur.

๐Ÿ’ H.R AtTirmidzi dan Ibnu Majah, Dishahihkan Ibnu Hibban dan Al-Albany.

3⃣. Meninggal pada Malam Jumat atau Hari Jumat (Siang).

ู…َุง ู…ِู†ْ ู…ُุณْู„ِู…ٍ ูŠَู…ُูˆุชُ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْุฌُู…ُุนَุฉِ ุฃَูˆْ ู„َูŠْู„َุฉَ ุงู„ْุฌُู…ُุนَุฉِ ุฅِู„َّุง ูˆَู‚َุงู‡ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ูِุชْู†َุฉَ ุงู„ْู‚َุจْุฑِ

๐Ÿƒ Tidaklah Seorang Muslim Meninggal pada Hari Jumat atau Malam Jumat kecuali Allah akan Menjaganya dari Fitnah Kubur.

๐Ÿ’ H.R AtTirmidzi, Ahmad, Hadits Dilemahkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari, Namun Dikuatkan oleh As-Suyuuthy dalam Syarhus Suduur dan Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany.

4⃣. Para Nabi, karena Merekalah Bagian dari Salah satu soal yang Ditanyakan : Siapa Nabimu. (Syarh Al-Aqiidah As-Saffaariniyyah Libni Utsaimin).

5⃣. Anak Kecil yang Meninggal saat Belum Mukallaf/belum mendapat beban syari'at (Menurut Pendapat Sebagian Ulama). (Syarh Al-Aqiidah As-Saffaariniyyah Libni Utsaimin).

6⃣. As-Shiddiq.

๐Ÿ”ฐ Yang Tingkatannya Lebih Tinggi dari Para Syuhadaa Lebih Berhak untuk Terhindar dari Pertanyaan Kubur.

๐Ÿ’  Menurut Al-Qurthuby.
Faidah : Salah satu Amalan yang Bisa Menyelamatkan Seseorang dari Adzab Kubur adalah Membaca Surat Al-Mulk Tiap Malam.
Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu Menyatakan :

ู…َู†ْ ู‚َุฑَุฃَ {ุชَุจَุงุฑَูƒَ ุงู„َّุฐِูŠ ุจِูŠَุฏِู‡ِ ุงู„ْู…ُู„ْูƒُ} ูƒُู„َّ ู„َูŠْู„َุฉٍ ู…َู†َุนَู‡ُ ุงู„ู„ู‡ُ ุจِู‡َุง ู…ِู†ْ ุนَุฐَุงุจِ ุงู„ْู‚َุจْุฑِ، ูˆَูƒُู†َّุง ูِูŠ ุนَู‡ْุฏِ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู†ُุณَู…ِّูŠู‡َุง ุงู„ْู…َุงู†ِุนَุฉَ

๐Ÿƒ Barangsiapa yang Membaca Tabarokalladzi bi yadihil mulku (Surat Al-Mulk) Tiap Malam, Allah akan Mencegahnya dari Adzab Kubur. Kami (Para Sahabat) di Masa Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam Menamakannya (Surat) Al-Maani’ah (yang Mencegah dari Adzab Kubur).

๐Ÿ’ H.R AnNasaai, Dihasankan oleh Al-Albany dalam Lafadz yang lain Dishahihkan oleh Al-Hakim dan Adz-Dzahaby.

~~~~~~~~~~~~~~~~

๐Ÿ“’ Dikutip dari Buku "Akidah Imam Al-Muzani (Murid Imam Asy-Syafii)"

▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.

Penyebab Masuk Neraka, Meskipun Rajin Beribadah

❎ Jangan Ujub!
Sifat ujub membuat amalan yang kita lakukan seakan-akan sirna.Dan neraka pun yang bisa jadi ancaman. Sehingga beramal baik selamanya pun tidak berujung baik. Bisa jadi ujungnya adalah seperti ini karena rasa ujub dalam diri.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
Sebagian ulama salaf, di antaranya Sa’id bin Jubair berkata,
ุฅู†َّ ุงู„ْุนَุจْุฏَ ู„َูŠَุนْู…َู„ُ ุงู„ْุญَุณَู†َุฉَ ูَูŠَุฏْุฎُู„ُ ุจِู‡َุง ุงู„ู†َّุงุฑَ ูˆَุฅِู†َّ ุงู„ْุนَุจْุฏَ ู„َูŠَุนْู…َู„ُ ุงู„ุณَّูŠِّุฆَุฉَ ูَูŠَุฏْุฎُู„ُ ุจِู‡َุง ุงู„ْุฌَู†َّุฉَ ูŠَุนْู…َู„ُ ุงู„ْุญَุณَู†َุฉَ ูَูŠُุนْุฌَุจُ ุจِู‡َุง ูˆَูŠَูْุชَุฎِุฑُ ุจِู‡َุง ุญَุชَّู‰ ุชُุฏْุฎِู„َู‡ُ ุงู„ู†َّุงุฑَ ูˆَูŠَุนْู…َู„ُ ุงู„ุณَّูŠِّุฆَุฉَ ูَู„َุง ูŠَุฒَุงู„ُ ุฎَูˆْูُู‡ُ ู…ِู†ْู‡َุง ูˆَุชَูˆْุจَุชُู‡ُ ู…ِู†ْู‡َุง ุญَุชَّู‰ ุชُุฏْุฎِู„َู‡ُ ุงู„ْุฌَู†َّุฉَ
Sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal kebaikan malah ia masuk neraka. Sebaliknya ada pula yang beramal kejelekan malah ia masuk surga. Yang beramal kebaikan tersebut, ia merasa ujub (bangga dengan amalnya), lantas ia pun berbangga diri, itulah yang mengakibatkan ia masuk neraka. Ada pula yang beramal kejelekan, namun ia senantiasa takut (akan adzab Allah) dan ia iringi dengan taubat, itulah yang membuatnya masuk surga.

Sumber: Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, 10/294


✅ Jaga Lisanmu !!
Seorang ahli ibadah tapi tidak menjaga lisannya, dia merasa seakan-akan shalat menjadi satu-satunya penolong diakhirat, dia terlena dengan menghitung-hitung pahalanya, padahal lisan yang buruk bisa jadi cambuk neraka yang bisa menghapus semua amal ibadah yang dikerjakan.
๐ŸšซMulutnya sering menyakiti orang lain.
๐ŸšซDia suka mengganggu tetangganya dengan ucapannya.
๐Ÿ”ฅSeluruh amal ibadahnya hancur, karena dia punya akhlak yang buruk.
๐Ÿ’ฅDia menjadi ahli neraka karena ibadahnya tidak mampu menjadi motivasi baginya untuk berakhlak yang baik.
Nah, masihkah anda merasa menjadi ahli surga hanya dengan modal puasa dan shalat?
Sementara puasa dan shalatmu tidak menjadikanmu menjadi lebih baik?
Jangan mimpi kawan!
Agama itu ajarannya sangat kompleks, jangan hanya dengan merasa sudah bisa baca dan hafal qur'an 30 juz, puasa dan shalat tidak pernah bolong lantas anda sudah jumawa seolah-olah menjadi manusia suci.
Allah itu tidak butuh shalatmu tapi butuh hasil dari shalatmu.

Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia. 


ุนู† ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚َุงู„َ: ู‚ِูŠْู„َ ู„ِู„ู†َّุจِูŠِّ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ูŠَุง ุฑَุณُูˆْู„َ ุงู„ู„ู‡ِ ุฅِู†َّ ูُู„ุงَู†َุฉً ุชَู‚ُูˆْู…ُ ุงู„ู„َّูŠْู„َ ูˆَ ุชَุตُูˆْู…ُ ุงู„ู†َّู‡َุงุฑَ ูˆَ ุชَูْุนَู„ُ ูˆَ ุชَุตَุฏَّู‚ُ ูˆَ ุชُุคْุฐِูŠ ุฌِูŠْุฑَุงู†َู‡َุง ุจِู„ِุณَุงู†ِู‡َุง ؟ ูَู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆْู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู…: ู„ุงَ ุฎَูŠْุฑَ ูِูŠْู‡َุง ู‡ِูŠَ ู…ِู†ْ ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ู†َّุงุฑِ ู‚َุงู„ُูˆْุง: ูˆَ ูُู„ุงَู†َุฉً ุชُุตَู„ِّู‰ ุงْู„ู…َูƒْุชُูˆْุจَุฉَ ูˆَ ุชَุตَุฏَّู‚ُ ุจِุฃَุซْูˆَุงุฑٍ ูˆَ ู„ุงَ ุชُุคْุฐِูŠ ุฃَุญَุฏًุง؟ ูَู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆْู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู…: ู‡ِูŠَ ู…ِู†ْ ุฃَู‡ْู„ِ ุงْู„ุฌَู†َّุฉِ
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, pernah ditanyakan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya si Fulanah suka sholat malam, shoum di siang hari, mengerjakan (berbagai kebaikan) dan bersedekah, hanyasaja ia suka mengganggu para tetangganya dengan lisannya?”. Bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Tiada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka”. Mereka bertanya lagi, “Sesungguhnya si Fulanah (yang lain) mengerjakan (hanya) sholat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, namun tidak pernah mengganggu seorangpun?”. Bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Dia termasuk penghuni surga”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrod: 119, Ahmad: II/ 440, al-Hakim: 7384 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahiih al-Adab al-Mufrad: 88 dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah: 190].
Berkaca dengan hadits Abu Hurairah radliyallahu anhu di atas, dapat dimengerti bahwa kendatipun seseorang itu telah dikenal akan banyaknya jenis ibadah yang dikerjakan dari mengerjakan sholat malam setelah wajibnya, shoum sunnah pada siang harinya sesudah Ramadlan, bersedekah dan berbagai perbuatan baik lainnya. Namun jika ia tidak dapat mengendalikan lisannya berupa dusta, cacian, celaan, kutukan, sumpah serapah dan sebagainya, dan yang terbanyak biasanya adalah ghibah atau gunjingan, maka tempat yang pantas untuknya adalah neraka. ู…ุนุงุฐ ุงู„ู„ู‡

Simaklah apa yang di ucapkan oleh al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rahimahullah, “Amat mengherankan bahwa ada seseorang yang dengan mudah dapat menjaga diri dari makan makanan yang haram, berbuat zhalim, berzina, mencuri, minum khomer, memandang sesuatu yang haram dan sebagainya, namun ia sulit untuk menjaga gerakan lisannya. Sehingga engkau dapat melihat seseorang yang dijadikan acuan dalam agama, kezuhudan dan ibadah, ia berucap dengan perkataan-perkataan yang mengundang kemurkaan Allah tanpa ambil peduli. Padahal satu kalimat saja akan dapat menjatuhkannya dengan jarak lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat. Berapa banyak kamu lihat orang yang mampu menjaga dari perbuatan keji dan kezhaliman, sementara itu lisannya mencela kehormatan orang-orang yang masih hidup dan juga orang-orang yang telah mati, tanpa peduli sedikitpun tentang apa yang ia ucapkan”. [Ad-Da’ wa ad-Dawa’ halaman 191 oleh al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah].

Meninggalkan berbagai kemungkaran adalah suatu keharusan, tetapi membuat orang lain tidak aman dan nyaman dari sebab khawatir keburukannya disebarluaskan orang lain adalah hal yang juga patut direnungkan dan diperhitungkan. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan bahwasanya orang yang tidak membuat rasa aman kepada orang lain, misalnya kepada tetangga, kerabat, teman atau lainnya maka ia adalah orang yang tidak sempurna keimanannya dan tidak akan masuk ke dalam surga serta mendapatkan kedudukan yang paling buruk di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana telah dituangkan di dalam beberapa hadits berikut ini,
ุนู† ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆْู„َ ุงู„ู„ู‡ِ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ู‚َุงู„َ: ู„ุงَ ูŠَุฏْุฎُู„ُ ุงْู„ุฌَู†َّุฉَ ู…َู†ْ ู„ุงَ ูŠَุฃْู…َู†ُ ุฌَุงุฑُู‡ُ ุจَูˆَุงุฆِู‚َู‡ُ
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk ke dalam surga, seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 121 dan shahihnya: 6016, Muslim: 46 dan al-Hakim: 21. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih, lihat Shahiih al-Adab al-Mufrad: 89, Mukhtashor Shahih Muslim: 33, Shahih al-Jami’ ash-Shagiir: 7675, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 549 (II/ 82)].

Di dalam shahih al-Bukhoriy dari Abu Syuraih radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman”. Ditanyakan kepada Beliau, “Siapakah dia wahai Rosulullah?”. Beliau bersabda, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya”.

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, “Di dalam hadits ini terdapat penegasan akan hak tetangga lantaran sumpah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam terhadap hal tersebut, dan Beliau mengulangi sumpahnya sebanyak tiga kali. Di dalamnya terdapat pula penafian (peniadaan) iman bagi orang yang mengganggu (atau menyakiti) tetangganya dengan ucapan atau perbuatan. Dan yang dikehendaki (oleh Beliau) adalah iman yang sempurna sebab tidak diragukan lagi bahwa orang yang berbuat maksiat itu tidak sempurna imannya”. [Fat-h al-Bariy: X/ 444].

Lisan wanita itu memang agak liar kalau bertemu dengan teman-temannya. Maka, lebih baik diam dari pada berbicara yang tidak bermanfaat... Semoga Allah Ta'ala melimpahkan taufik dan hidayahNya...

sumber:  https://cintakajiansunnah.wordpress.com/tag/kisah-seorang-wanita-yang-rajin-beribadah-namun-suka-mengganggu-tetangganya-dengan-lisannya-maka-ia-akan-masuk-neraka/

Rabu, 03 Oktober 2012

BIVAK

Bivak adalah tempat berlindung sementara di alam bebas dari aneka gangguan cuaca, binatang buas, dan angin tentunya. Memang semua itu bisa mempergunakan Tenda Dome atau Flysheet, akan tetapi,bagaimana jika alat berlindung siap pakai tadi rusak ataupun sobek saat di alam bebas? Sudah tentu kita harus bisa membuat bivak atau shelter dari bahan sekeliling kita. Bivak atau shelter dapat dibagi atas : 1. Bivak alam Tempat berlindung yang dibuat dengan menggunakan bahan - bahan yang terdapat di alam seperti ; a. Pohon tumbang b. Lubang pada pohon besar c. Gua d. Bivak dari bambu e. Bivak dari daun tumbuh - tumbuhan 2. Bivak buatan a. Menggunakan plastik b. Menggunakan Fly sheet Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan Bivak yaitu: 1. Untuk berapa lama Dengan merencanakan akan berapa lama berlindung di suatu tempat, penghematan tenaga dan kesadaran emosi akan terjaga. 2. Sendiri atau kelompok Buatlah tempat berlindung yang sesuai dengan kebutuhan, tidak terlalu luas dan tidak terlau sempit sehingga kehangatan tempat berlindung tetap terjaga. 3. Memilih tempat untuk menjaga kenyamanan dan tetap hangatnya tempat berlindung serta menghindari cepatnya penurunan daya tahan tubuh, perhatikan hal berikut ; a. Dirikan bivak yang terlindung dari terpaan angin, jangan dirikan bivak ditempat yang terbuka dari terpaan angin b. Dirikan bivak pada tempat yang kering dan rata, untuk daerah yang lembab, buatlah para - para yang kokoh. Jangan dirikan bivak dilereng gunung atau lembah c. Dirikan bivak dibawah kerindangan pohon yang tembus sinar matahari. Jangan dirikan dibawah pohon yang rapuh dan lapuk d. Pada situasi bivak yang permanen, usahakan dirikan pada daerah yang dekat dengan sumber air. Jangan dirikan bivak dialiran sungai dan jalur lintas binatang. Di daerah tempat kita akan mendirikan bivak hendaknya bukan merupakan sarang nyamuk atau serangga lainnya. Kita juga perlu perhatikan bahan pembuat bivak. Usahakan bivak terbuat dari bahan yang kuat dan pembuatannya baik, sebab semuanya akan menentukan kenyamanan. Bentuk lain dari alam yang bisa dimanfaatkan sebagai bivak yaitu gua, lekukan tebing atau batu yang cukup dalam, lubang - lubang dalam tanah dan sebagainya. Apabila memilih gua, kita bisa memastikan tempat ini bukan persembunyian satwa. Goa yang akan ditinggali juga tak boleh mengandung racun. Cara klasik untuk mengetahui ada tidaknya racun adalah dengan memakai obor. Kalau obor tetap menyala dalam gua tadi artinya tak ada racun atau gas berbahaya di sekitarnya. Kita juga bisa memanfaatkan tanah berlubang atau tanah yang rendah sebagai tempat berlindung. Tanah yang berlubang ini biasanya bekas lubang perlindungan untuk pertahanan, bekas penggalian tanah liat dan lainnya. Pastikan tempat - tempat tersebut tidak langsung menghadap arah angin. Kalau terpaksa menghadap angin bertiup kita bisa membuat dinding pembatas dari bahan - bahan alami. Selain menahan angin, dinding ini bertugas untuk menahan angin untuk tidak meniup api unggun yang dibuat di muka pintu masuk .